SELAMAT DATANG! SELAMAT BERIBADAH DI GEREJA BNKP PADANG >>> 1. KEBAKTIAN PAGI JAM 08.00 WIB (BAHASA INDONESIA) - 2. KEBAKTIAN SIANG JAM 10.30 WIB (BAHASA NIAS) - 3. KEBAKTIAN SORE JAM 18.00 WIB (BAHASA INDONESIA) >>> Kebaktian Remaja Jam 13.00 WIB >>> Sekolah Minggu : Pagi Jam 08.00 WIB dan Siang Jam 10.30 WIB
Gambar 1
Pdt. Desmakna Zendratö, S.Th
Gambar 2
Petugas 16 Juni 2024 | 08.00 WIB
Gambar 1
Pdt. Limesius Gowasa, S.Th
Gambar 2
Petugas 16 Juni 2024 | 10.30 WIB
Gambar 3
Kebaktian 16 Juni 2024 | 08.00 WIB
Gambar 3
Kebaktian 16 Juni 2024 | 08.00 WIB
Gambar 3
Kebaktian 16 Juni 2024 | 10.30 WIB
Gambar 3
Kebaktian 16 Juni 2024 | 10.30 WIB
Gambar 3
Organis, Songleader dan Multimedia 16 Juni 2024 | 08.00 WIB
Gambar 3
Organis, Songleader dan Multimedia 16 Juni 2024 | 10.30 WIB

Renungan Kamis Putih 6 April 2023

Menjelang kematianNya, Tuhan Yesus memberikan ungkapan kasih dengan cara spektakuler, Dia bersedia memposisikan diriNya sebagai seorang hamba yang pada zaman itu dengan membersihkan kaki para muridnya dengan cara membasuh dengan air lalu menyeka dengan kain di pinggangNya. Untuk melakukan tugas itu, Tuhan Yesus menempatkan diriNya di bawah kaki para muridNya, dan membasuh kaki dengan air serta menyekanya dengan kain yang terikat di pinggangNya. Menurut Injil Yohanes, peristiwa perjamuan malam terakhir diawali dengan tindakan Tuhan Yesus dengan terlebih dahulu merendahkan diriNya dengan cara membasuh kaki para muridNya. Dia yang adalah Tuhan dan Guru bersedia memposisikan diriNya sebagai seorang hamba.

Setelah Tuhan Yesus membasuh kaki para murid, Dia berkata, “Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan” (Yoh. 13:13). Sangat menarik bahwa Yesus sebagai Guru dan Tuhan dikaitkan dengan tindakan merendahkan diri dan kesediaan untuk melayani sebagai seorang hamba. Dalam Yohanes 13:14, Tuhan Yesus berkata, “Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu”. Kepemimpinan yang diteladankan oleh Tuhan Yesus adalah pola kepemimpinan yang menghamba. Makna sebagai “Guru” dan “Tuhan” ditempatkan Tuhan Yesus sebagai suatu jabatan yang sifatnya fungsional, bukan sekedar suatu status atau kedudukan belaka. Namun, makna sebagai pemimpin tersebut akan menjadi efektif saat seseorang pemimpin sungguh-sungguh tulus mempraktikkan karakter seorang yang bersedia menghamba dan melayani sesamanya. Sayangnya, sikap keteladanan Tuhan Yesus itu sering hanya dihayati sebagai peristiwa ritual liturgis belaka. Umumnya, pada hari Kamis Putih beberapa gereja melaksanakan upacara pembasuhan kaki, tetapi dalam kehidupan sehari-hari, anggota jemaat tersebut kembali memperlihatkan sikap superioritas, merasa diri sangat penting atau arogan, yaitu dengan cara berlaku sewenang-wenang, menindas dan bersikap kasar kepada sesama yang dianggap lebih lemah.

Marilah kita melihat apa yang dilakukan Yesus dalam Markus 14:22-26 yang menjadi bahan bacaan ini dan apa yang ditekankan Yesus kepada para muridNya. Lebih dari satu kali kita melihat bahwa para nabi Israel terpaksa melakukan tindakan-tindakan simbolik dan dramatik bila mereka merasa bahwa kata-kata saja tidak cukup. Seakan-akan perkataan itu merupakan sesuatu yang mudah dilupakan, sedangkan tindakan dramatik akan terukir terus dalam ingatan. Itulah yang dilakukan Yesus, dan Ia menghubungkan tindakan dramatik itu dengan perayaan kuno masyarakatNya sehingga akan lebih terukir lagi dalam pikiran para muridNya. Katanya, “Lihat! Sama seperti roti ini dipecah-pecahkan, demikianlah tubuhKu dipecah-pecahkan bagi kalian! Sama seperti cawan anggur merah ini ditumpahkan, demikianlah darahKu ditumpahkan bagi kalian”.

Apa yang dimaksudkan Yesus ketika Ia mengatakan bahwa cawan itu melambangkan perjanjian yang baru? Kata “perjanjian” adalah kata umum dalam agama Yahudi. Dasar dari agama Yahudi adalah bahwa Allah telah masuk ke dalam suatu ikatan perjanjian dengan bangsa Israel. Penerimaan perjanjian lama dinyatakan dalam Keluaran 24:3-8; dari teks tersebut kita melihat bahwa perjanjian itu sepenuhnya bergantung pada kesetiaan Israel mematuhi hukum Jika hukum dilanggar, perjanjian itu putus dan hubungan antara Allah dan bangsa itu berantakan. Hubungan itu sepenuhnya bergantung pada hukum dan pada kesetiaan terhadap hukum. Allah adalah Hakim. Karena tak ada seorang pun yang bisa mematuhi hukum itu sepenuhnya, manusia selalu saja gagal. Namun, Yesus berkata, “Aku memperkenalkan dan mengesahkan suatu perjanjian yang baru, suatu hubungan yang baru antara Allah dan manusia. Hubungan itu tidak bergantung pada hukum, tetapi pada darah yang Aku akan curahkan”. Yang dimaksud di sini adalah bahwa hubungan itu bergantung pada kasih semata-mata. Hubungan baru adalah hubungan antara Allah dan manusia yang bergantung bukan pada hukum, melainkan kasih. Dengan kata lain, Yesus mengatakan, “Aku melakukan apa yang Aku lakukan untuk menunjukkan kepada kalian betapa Allah mengasihi kalian”. Manusia tidak lagi berada semata-mata di bawah hukum Allah. Karena apa yang telah Yesus lakukan, manusia untuk selamanya berada di dalam kasih Allah. Itulah hakikat dari apa yang mau disampaikan oleh sakramen itu kepada kita.

Begitu juga pada akhir pelayanan-Nya di dunia untuk menyelesaikan karya penebusan-Nya, Yesus mengalami pergumulan yang berat. Dia harus menanggung banyak penderitaan, dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga (Matius 16:21).

Dalam kesedihan-Nya yang sangat, Dia ingin berdoa kepada Bapa-Nya di taman Gestemani. Dia mengajak murid-murid-Nya yang terdekat: Petrus, Yohanes, dan Yakobus bersama-Nya. Dia ingin mereka menemani dan berjaga-jaga satu jam saja. Tetapi apa yang terjadi dengan mereka ketika Yesus berdoa? Mereka semua tertidur, bahkan sampai tiga kali, setiap kali Yesus sedang berdoa. Pergumulan berat Yesus untuk taat dalam menghadapi kematian di atas kayu salib ternyata tidak mudah mereka pahami sehingga mereka tidak sanggup sejenak berjaga-jaga bersama-Nya.

Terkadang ada orang-orang di sekitar kita yang membutuhkan dukungan di masa-masa kritis karena situasi dan masalah yang berat dalam studi, keluarga, kesehatan, pekerjaan, dan relasi dengan orang lain. Mereka sangat kesepian dan membutuhkan teman yang dapat sekadar mendengar dan mengerti beratnya pergumulan yang mereka hadapi. Terkadang kita enggan memberi pertolongan secara langsung kepada anggota jemaat yang sedang membutuhkan pertolongan. Maukah kita hadir, sebagai wujud kasih dan dukungan, dan berdoa bagi mereka?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MENU PILIHAN

SNK dan KETUA KOMISI PERIODE 2022-2027

GALERI FOTO

JADWAL IBADAH

KOTAK SARAN / SURAT PEMBACA

Nama

Email *

Pesan *

Pengunjung

Pengikut

Pertanyaan, Kritik & Saran